TigerW123

Dari Penggemar untuk Penggemar
Mercy Tiger (Mercedes-Benz W123)

Kategori: Pengalaman

Mengapa Saya Masih Mencintai Mercy Tiger

Kenangan bersama Mercedes-Benz W123 Mercy Tiger

Kalau hari ini ada yang bertanya kepada saya, "Apa yang paling Anda rindukan dari Mercy Tiger?" Jawabannya mungkin akan terdengar aneh. Bukan suara mesinnya. Bukan bentuk bodinya. Yang paling saya rindukan justru perjuangan hingga akhirnya mobil itu kembali sehat dan bisa saya nikmati di setiap perjalanan....

Pertemuan Pertama dengan Mercy Tiger

Kalau mengingat kembali awal mula memiliki Mercy Tiger, sebenarnya tidak ada cerita yang istimewa. Bukan karena sejak kecil saya bercita-cita memiliki Mercedes-Benz W123. Bukan pula karena sudah lama mencari unit terbaik. Semuanya terjadi begitu saja, seolah memang sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya.

Suatu hari saya mendengar ada Mercedes-Benz W123 280 yang akan dijual. Saya kemudian bertanya berapa harganya. Setelah mendengar angkanya, kebetulan saat itu saya memang memiliki rezeki lebih dan ingin memiliki mobil sendiri. Tanpa berpikir panjang, saya memutuskan untuk membelinya.

Kalau hari itu saya tidak mendengar kabar tersebut, mungkin saya tidak akan pernah memiliki Mercy Tiger. Dan kalau saya tidak pernah memilikinya, mungkin TigerW123 juga tidak akan pernah ada.

Ternyata Memiliki Mercy Tiger Tidak Semudah yang Saya Bayangkan

Hari-hari pertama memiliki Mercy Tiger tentu dipenuhi rasa senang. Akhirnya saya bisa memiliki mobil sendiri dengan hasil kerja keras saya. Rasanya bangga sekaligus penasaran ingin segera menggunakannya untuk berbagai aktivitas.

Perjalanan pertama tentu tidak jauh-jauh dari SPBU. Saya mengisi bensin penuh untuk pertama kalinya.

Meteran pompa terus bergerak. Terus. (Dalam hati, "Stop..."). Masih terus. (Dalam hati mulai panik, "Gawat...").

Akhirnya saya bilang, "Sudah pak... cukup."

Bukan karena tangkinya penuh, tetapi karena uang di dompet hampir tidak cukup untuk membayarnya. Waktu itu SPBU Pertamina masih menerima pembayaran tunai, jadi saya benar-benar menghitung sisa uang di dompet sambil melihat angka di meteran pompa.

Saat itu saya baru menyadari bahwa memiliki W123 280 itu "jajan bensinnya" berbeda dengan mobil yang pernah saya kenal sebelumnya. Namun rasa senang memiliki Mercy Tiger membuat saya tidak terlalu memikirkannya. Saya hanya tersenyum sambil membayangkan berbagai perjalanan yang akan kami lalui bersama.

Sayangnya... Saya belum tahu bahwa perjalanan itu tidak akan semulus yang saya bayangkan.

Uang Jajan Pertama Mercy Tiger

Karena ingin mobil benar-benar siap digunakan, beberapa hari kemudian saya membawa Mercy Tiger ke bengkel yang sudah saya percaya. Permintaan saya sederhana. Saya hanya ingin seluruh kondisi mobil diperiksa secara menyeluruh. Kalau ada yang memang perlu diganti, sekalian saja dikerjakan. Daripada sedikit demi sedikit, saya lebih memilih memperbaikinya dari awal agar nanti bisa menikmati mobil ini dengan tenang.

Setelah perbaikan selesai, pihak bengkel memberikan daftar komponen yang perlu diganti beserta total biayanya.

Saya membaca angkanya. Lalu membaca sekali lagi. Kalau tidak salah ingat, totalnya hampir menyamai harga mobil yang baru saja saya beli.

Saya hanya bisa menarik napas panjang. Bukan karena tidak siap mengeluarkan biaya. Tetapi karena benar-benar tidak menyangka jumlahnya bisa sebesar itu. Setelah urusan pembayaran selesai, saya langsung membuang notanya. Bukan karena tidak mau mengingatnya. Justru karena saya ingin cepat melupakannya.

Saya hanya berkata kepada pemilik bengkel, "Kalau istri ke sini jangan cerita."

Beliau menjawab dengan cepat, "Tahu".

Untungnya beliau juga seorang penghobi mobil klasik, meskipun mereknya berbeda. Jadi beliau paham, bagi seorang penghobi, tidak semua hal bisa dihitung dengan uang. Itulah uang jajan pertama, sekaligus yang terbesar, yang pernah saya berikan kepada Mercy Tiger.

Saat itu saya benar-benar percaya, "Sekarang semua sudah beres. Tinggal isi bensin dan menikmati mobilnya."

Ternyata... Saya terlalu optimis.

Ujian Kesabaran Pertama: AC yang Punya "Sensor Cuaca Eropa"

Beberapa minggu kemudian, masalah pertama mulai muncul. AC tidak lagi terasa dingin. Karena tinggal di Indonesia, bagi saya AC bukan sekadar fitur tambahan. Mobil boleh tua, tetapi kalau AC tidak dingin, perjalanan panjang akan terasa sangat melelahkan.

Saya pun mulai berkeliling mencari bengkel AC. Bengkel pertama melakukan servis. Evaporator dibersihkan. Freon diisi ulang. Saya pulang dengan perasaan lega.

Beberapa hari kemudian... AC kembali hangat.

Saya berpindah ke bengkel AC berikutnya. Kali ini evaporator diganti dan freon kembali diisi. Saya kembali berharap masalahnya selesai. Namun beberapa hari kemudian, gejalanya muncul lagi.

Saya berpindah ke bengkel AC berikutnya. Relay kipas dan kipas diganti lebih besar. Beberapa hari kemudian... AC kurang dingin.

Yang membuat saya semakin bingung, AC ini seperti memiliki kepribadian sendiri. Kalau cuaca sedang terik, dinginnya lumayan. Begitu langit mendung... Udara yang keluar ikut terasa hangat. Saya sampai sempat bercanda sendiri.

"Jangan-jangan AC Mercy Tiger saya masih pakai sensor cuaca Eropa."

Kalau matahari bersinar, baru mau bekerja. Kalau mendung, pemanasnya aktif.

Saya sudah tidak ingat berapa kali bolak-balik ke bengkel AC. Saya juga mencoba berbagai cara. Memasang peredam panas di atap. Tambah lapisan kaca film. Tetap belum memuaskan. Bahkan saya sempat berpikir mengecat ulang mobil yang berwarna hitam ini dengan warna yang lebih terang. Siapa tahu panas matahari tidak terlalu terserap.

Untungnya niat itu saya urungkan. Bukan karena berubah pikiran. Melainkan karena membayangkan harus mengurus perubahan warna di STNK saja rasanya sudah membuat saya lelah.

Sampai suatu hari saya sedang mencari manifold di sebuah tempat kampakan. Seperti biasa, obrolan antar penghobi akhirnya mengarah ke berbagai masalah Mercy Tiger. Saya membuka kap mesin. Pemilik kampakan melihat sebentar, lalu berkata santai:

"Masih pakai kompresor York? Sampai kiamat juga nggak dingin. Ganti saja pakai Sanden yang besar."

Saya mengikuti sarannya. Dan... Untuk pertama kalinya sejak memiliki Mercy Tiger, saya benar-benar bisa menikmati AC yang dingin. Lucunya, solusi yang saya cari ke mana-mana ternyata datang hanya dari sebuah obrolan sederhana di tempat kampakan.

Sejak saat itu saya mulai memahami satu hal. Terkadang solusi bukan ditemukan di bengkel berikutnya, melainkan dari orang yang tepat.

Ketika Mercy Tiger Sedang Sehat

Setelah berbagai percobaan dan akhirnya menemukan solusi yang tepat, untuk pertama kalinya saya benar-benar bisa menikmati Mercy Tiger tanpa memikirkan AC lagi. Rasanya seperti mendapat mobil baru.

Dengan rasa percaya diri yang kembali, saya mulai berani mengajak Mercy Tiger bertempur di jalanan Jakarta pada siang hari yang terik. Lucunya, kali ini saya justru tersenyum sendiri. Bukan karena jalanan lancar. Tetapi karena AC-nya terasa dingin sekali. Sampai-sampai saya sering bercanda bahwa rasanya seperti duduk di dalam kulkas.

Setelah melewati kemacetan kota, tujuan berikutnya hampir selalu sama. Jalan tol.

Di sanalah saya mulai menikmati karakter asli Mercy Tiger. Sedikit demi sedikit pedal gas saya tekan. Suara mesin mulai berubah. Ketika throttle kedua karburator Solex mulai bekerja, terdengar suara geraman khas yang sampai hari ini masih saya ingat.

Bukan suara yang bising. Tetapi suara yang seolah memberi tahu bahwa mesin enam silinder ini masih mempunyai tenaga yang siap dikeluarkan kapan saja. Ditambah lagi karakter suspensinya yang mengayun lembut mengikuti permukaan jalan. Dipadukan dengan jok yang masih menggunakan pegas, perjalanan jauh terasa sangat nyaman.

Suatu hari seorang teman yang ikut menumpang hanya berkata singkat, "Tua-tua gini, enak juga ya mobilnya."

Saya hanya tersenyum. Karena saat itu saya tahu, semua uang, waktu, dan tenaga yang sudah saya keluarkan dibayar lunas.

Ujian Kesabaran Kedua: Ketika Temperatur Mesin Saingan dengan Panasnya Jakarta

Setelah AC akhirnya bisa membuat saya tersenyum, saya pikir penderitaan sudah selesai. Ternyata Mercy Tiger masih punya ujian berikutnya.

Suatu siang, saya sedang asyik menikmati kemacetan Jakarta dengan AC yang dingin. Tiba-tiba mata saya melirik ke arah indikator temperatur mesin. Jarumnya mulai naik. Pelan. Tapi pasti.

Awalnya saya masih tenang. Mungkin hanya karena macet. Beberapa menit kemudian... Jarumnya terus naik. Mendekati garis merah. Dalam hati mulai panik.

Saya langsung menyalakan lampu sein dan mencari jalan menuju bengkel langganan terdekat. Setelah diperiksa, penyebabnya ditemukan. Radiator bocor.

Solusinya sederhana. "Kita las saja dulu, Pak." Saya pulang dengan lega.

Beberapa hari kemudian... Jarum temperatur kembali naik. Masuk bengkel lagi. Radiator dikuras. Saya pulang lagi. Beberapa hari kemudian... Naik lagi.

Ternyata kebocorannya pindah ke bagian lain. Dilakukan pengelasan lagi. Saat itu saya mulai mengerti, memperbaiki radiator tua kadang seperti mengejar kebocoran yang terus berpindah tempat.

Akhirnya saya memutuskan berhenti mencari solusi sementara. Radiator diganti satu unit. Sejak saat itu... Masalah selesai.

Sebagai bentuk rasa syukur sekaligus memastikan masalah benar-benar hilang, saya sengaja membawa Mercy Tiger ke tempat yang dulu paling saya hindari. Kemacetan Jakarta.

Lucunya, kali ini saya justru menikmati kemacetan. Bukan karena macetnya. Tetapi karena sesekali mata saya melirik ke indikator temperatur. Jarumnya naik sedikit. Turun lagi. Naik sedikit. Turun lagi. Tetap berada di posisi normal.

Entah kenapa, melihat jarum temperatur bekerja normal di tengah kemacetan Jakarta rasanya jauh lebih menyenangkan daripada melihat speedometer menyentuh angka tinggi di jalan tol. Hari itu saya pulang dengan tenang. Ujian kesabaran kedua akhirnya selesai.

Bengkel Sudah Seperti Rumah Kedua

Setelah beberapa kali keluar masuk bengkel, saya mulai sadar bahwa Mercy Tiger ternyata mempunyai hobi yang sama dengan saya. Sama-sama suka datang ke bengkel.

Lama-kelamaan, wajah saya mulai dikenal. Begitu membuka pintu bengkel, resepsionis sudah tersenyum. "Ngambek kenapa mobilnya?"

Kalau saya datang lagi beberapa hari kemudian, pertanyaannya berubah. "Yang kambuh apa lagi?"

Kadang ada yang bercanda. "Mobilnya lagi pilek?" Yang lain menimpali. "Atau lagi encok?"

Saya ikut tertawa. Mau bagaimana lagi. Kalau dipikir-pikir sekarang, mungkin memang mereka sudah hafal. Soalnya yang datang orangnya itu-itu lagi, mobilnya juga itu-itu lagi.

Namun saya bersyukur. Suasana bengkel tidak pernah terasa menegangkan. Kami lebih sering tertawa daripada mengeluh.

Walaupun begitu, ada satu kalimat yang sampai hari ini masih saya ingat. Suatu hari saya kembali datang dengan masalah yang entah sudah ke berapa kalinya. Pemilik bengkel hanya melihat saya. Lalu melihat mobil saya. Beliau ngomong, "Udah... jual aja."

Saya hanya menjawab, "Ogah…". Karena merasa masih mau berjuang.

Ujian Kesabaran Terbesar: Endut-Endutan yang Hampir Membuat Saya Menyerah

Kalau harus memilih satu masalah yang paling membuat saya hampir menyerah selama memiliki Mercy Tiger, jawabannya adalah karburator Solex.

Masalah ini jauh lebih menyebalkan daripada kerusakan lainnya. Kadang mobil endut-endutan. Kadang tiba-tiba tidak bisa langsam. Bayangkan saja harus menghadapi kemacetan Jakarta sambil kaki terus memainkan pedal gas agar mesin tidak mati.

Kadang ketika sedang menyalip, mesin justru mbrebet. Setiap kali selesai diperbaiki, mobil memang kembali normal. Tetapi hanya bertahan beberapa hari. Setelah itu... Kambuh lagi.

Saya berpindah dari satu bengkel ke bengkel lain selama beberapa bulan. Lama-kelamaan saya mulai lelah. Bukan karena biaya. Tetapi karena merasa tidak tahu lagi harus bagaimana. Saya bahkan sempat berkata dalam hati, "Kalau begini terus, saya bakar juga nih mobil."

Untungnya itu hanya luapan emosi. Karena suatu hari saya tidak sengaja bertemu sesama pemilik Mercy Tiger yang menyarankan agar saya membawa mobil ke bengkel yang benar-benar memahami karburator Solex.

Saya mengikuti sarannya. Dan untuk pertama kalinya, masalah yang selama berbulan-bulan membuat saya frustrasi akhirnya benar-benar selesai. Sejak saat itu Mercy Tiger kembali menjadi mobil yang bisa saya nikmati setiap hari.

Kalau mengingatnya sekarang, saya justru bersyukur tidak menyerah waktu itu. Karena kalau saya menyerah, mungkin saya tidak akan pernah merasakan semua kenangan indah bersama Mercy Tiger setelahnya.

Beberapa Kenangan

Kalau dipikir-pikir sekarang, ternyata bukan hanya perjuangan memperbaiki Mercy Tiger yang masih saya ingat. Ada banyak hal kecil yang waktu itu terasa biasa saja, tetapi sekarang justru sering membuat saya rindu mengendarai Mercy Tiger.

Valet yang Membuat Deg-degan

Setiap kali pergi ke hotel atau restoran yang menggunakan jasa valet, saya hampir tidak pernah langsung menyerahkan kunci. Pasti saya jelaskan terlebih dahulu.

Setelah itu saya baru menyerahkan kunci. Terkadang begitu mobil mulai berjalan, saya jadi was-was. Bukan takut mesinnya mogok. Yang saya khawatirkan justru jangan sampai menyerempet, karena pada masa itu mencari mika lampu, lis krom, atau aksesori bodi Mercy Tiger yang masih bagus bukanlah perkara mudah. Kalau sampai pecah, belum tentu langsung bisa menemukan penggantinya.

Tangki yang Membuat Petugas SPBU Bingung

Suatu hari saya mengisi bensin di sebuah SPBU di luar kota. Petugas terus mengisi.

Tiga puluh liter. Empat puluh liter. Masih lanjut.

Beliau akhirnya bertanya, "Tangkinya kosong sekali ya, Mas?"

Saya menjawab santai, "Enggak kok... tadi masih seperempat."

Beliau hanya mengangguk sambil melanjutkan mengisi. Setelah selesai, saya melihat beliau bergumam pelan sambil menggaruk kepala. "Gede juga tangkinya..."

Memang begitulah Mercy Tiger. Perutnya besar.

Mudik yang Tidak Akan Saya Lupakan

Salah satu perjalanan yang paling saya ingat adalah ketika mudik bersama keluarga. Di dalam mobil ada saya, istri, dua anak yang masih kecil, satu orang mertua, dan satu orang pembantu, ditambah tiga koper besar.

Ajaibnya... Semuanya masih muat.

Yang tidak muat hanya rasa tenang saya. Sepanjang perjalanan saya justru lebih sering berdoa semoga tidak bertemu polisi tidur yang terlalu tinggi. Bukan karena takut mobilnya tidak kuat. Tetapi karena saya tidak ingin bagian bawah mobil kesayangan saya menyentuh aspal.

Kalau mengingat perjalanan itu sekarang, saya baru sadar bahwa Mercy Tiger bukan hanya menemani saya pergi dari satu tempat ke tempat lain. Mobil itu juga ikut menjadi bagian dari perjalanan hidup keluarga saya.

Ketika Mercy Tiger Mulai "Berbicara"

Setelah bertahun-tahun bersama, tanpa saya sadari Mercy Tiger mulai "berbicara" kepada saya. Bukan dengan kata-kata. Melainkan melalui berbagai tanda seperti suara, getaran, atau bau-bauan.

Kalau tercium aroma bensin, saya biasanya langsung tahu bagian mana yang perlu diperiksa. Kalau muncul bunyi baru yang sebelumnya tidak pernah ada, langsung muncul firasat, "Aduh... bagian ini minta jajan."

Begitu juga dengan getaran mesin. Sedikit berbeda saja, saya mulai menebak komponen apa yang sedang "ngambek" dan meminta perhatian.

Entah karena terlalu sering bersama, atau memang sudah hafal karakternya. Lama-kelamaan saya merasa memiliki semacam "indra keenam" terhadap Mercy Tiger. Kadang sebelum membuka kap mesin, saya sudah mempunyai perkiraan di mana letak masalahnya. Lucunya, feeling itu ternyata cukup sering benar.

Mungkin itulah yang hanya dipahami oleh orang yang pernah hidup bertahun-tahun bersama mobil klasik. Semakin lama memilikinya, semakin kita sadar bahwa setiap suara, bau, dan getaran mempunyai artinya masing-masing.

Lucunya, setelah sekian lama hidup bersama Mercy Tiger, kadang saya justru merasa aneh kalau mobil berjalan terlalu lama tanpa ada "keluhan". Dalam hati sempat terlintas, "Tumben... anteng."

Mercy Tiger mengajarkan saya bahwa sebuah mobil bukan hanya untuk dikendarai, tetapi juga untuk didengarkan.

Jalan Tol Lengang yang Selalu Saya Rindukan

Kalau harus memilih satu momen yang paling saya rindukan bersama Mercy Tiger, mungkin banyak orang mengira jawabannya adalah ketika mobil selesai dicuci, dipoles, lalu terlihat mengilap.

Ternyata bukan.

Yang paling saya rindukan justru jalan tol Jakarta saat libur Lebaran. Saat sebagian besar warga Jakarta pulang ke kampung halaman, jalanan ibu kota berubah sangat berbeda. Lengang. Hampir tidak ada kemacetan yang biasanya menjadi teman sehari-hari.

Bagi saya, momen seperti itu adalah hadiah. Saya dan seorang teman sering memanfaatkannya untuk sekadar menikmati Mercy Tiger. Berangkat dari Jakarta Barat menuju Kelapa Gading hanya untuk makan. Setelah itu melanjutkan perjalanan ke Bogor. Kadang bahkan hanya memutari jalan tol dalam kota tanpa tujuan khusus.

Bukan karena ada urusan. Kami hanya ingin menikmati perjalanan.

Di jalan tol yang lengang, saya bisa mendengar suara geraman khas karburator Solex setiap kali pedal gas diinjak sedikit lebih dalam. Suspensinya mengayun lembut mengikuti permukaan jalan, membuat perjalanan terasa begitu nyaman.

Sesekali terdengar suara geraman lain dari sebelah. Dalam hati saya langsung berpikir, "Aduh... ada yang minta jajan lagi." Saya pun menoleh ke kiri.

Ternyata... Teman saya sedang tertidur sambil ngorok. Saya bisa bernapas lega. Untung kali ini bukan Mercy Tiger yang "bersuara".

Penutup

Hari ini saya sudah tidak lagi memiliki Mercy Tiger. Lima belas tahun sudah berlalu.

Anehnya, yang saya ingat bukan lagi keluar masuk bengkel. Bukan lagi mesin yang endut-endutan. Bukan lagi air yang masuk ke bagasi.

Yang saya ingat justru suara karburator Solex ketika mulai membuka katup (throttle) keduanya. Yang saya ingat adalah jalan tol yang panjang, sedikit bergelombang, dengan Mercy Tiger yang mengayun lembut seolah-olah berkata bahwa perjalanan ini memang untuk dinikmati, bukan untuk terburu-buru.

Yang saya ingat adalah obrolan dengan sesama penghobi, montir-montir berpengalaman yang memahami karakter W123, dan perjalanan berburu sparepart yang kadang justru lebih berharga daripada sparepart yang akhirnya saya bawa pulang.

Saya tidak tahu apakah suatu hari nanti saya akan kembali memiliki Mercy Tiger. Tetapi saya tahu satu hal. Sebagian kecil dari hidup saya akan selalu tinggal di balik kemudi Mercedes-Benz W123.

Dan itulah alasan mengapa TigerW123 ada. Bukan hanya untuk mengenang salah satu mobil terbaik yang pernah saya miliki. Tetapi juga untuk mengabadikan pengetahuan, pengalaman, dan kenangan yang pernah saya lalui bersama Mercy Tiger.

Karena setiap kali saya menulis satu artikel baru, rasanya seperti membawa Mercy Tiger kembali hidup, setidaknya dalam ingatan.

Mercy Tiger W123 Never Dies - Senja Perjalanan

Mari Berbagi Cerita dan Pengalaman

Apabila Anda memiliki pengalaman menarik, tips perawatan, dokumentasi restorasi, maupun foto Mercedes-Benz W123, kami dengan senang hati menerimanya. Informasi yang Anda bagikan dapat membantu memperkaya artikel di TigerW123 sekaligus menjadi referensi bagi sesama penggemar Mercy Tiger di Indonesia.

*Apabila tidak ingin nama dicantumkan sebagai kontributor, silakan informasikan pada email yang Anda kirimkan.

📧 Kirim Cerita ke info.tigerw123@gmail.com