Mental Baja Pemilik Mercy Tiger 280: Dilarang Lihat Jarum Bensin Kalau Lagi Ngebut!
Kalau artikel sebelumnya saya banyak bercerita tentang kenangan bersama Mercy Tiger, kali ini izinkan saya sedikit bercanda. Walaupun... sebenarnya sebagian isi artikel ini adalah kisah nyata.
Kalau Anda pemilik Mercedes-Benz W123 280, saya yakin pasti pernah mengalami satu kejadian yang sama.
Sedang asyik menikmati suara mesin M110.
Jalan mulai lengang.
Pedal gas mulai diinjak sedikit lebih dalam.
Raungan khas enam silinder mulai terdengar.
Hati senang.
Senyum mulai muncul.
Lalu...
Tanpa sengaja mata melirik ke panel sebelah kiri.
Kesalahan besar.
Jarum Bensin Itu Bukan Indikator
Bagi pemilik Mercy Tiger 280, jarum bensin bukan sekadar penunjuk isi tangki. Itu alat tes kesehatan jantung.
Selama Anda tidak melihatnya, semuanya terasa baik-baik saja.
Mobil bertenaga.
Suara mesin merdu. Enam silinder sedang pamer.
Karburator Solex bernyanyi.
Dunia terasa indah.
Tetapi begitu mata melirik ke arah jarum bensin...
Perasaan langsung berubah.
"Lho..."
"Kok tadi masih segini?"
Ada Kabel Rahasia dari Pedal Gas ke Jarum Bensin
Sampai hari ini saya masih punya teori sendiri.
Sepertinya Mercedes-Benz diam-diam memasang kabel khusus yang menghubungkan pedal gas langsung ke pelampung bensin.
Semakin dalam pedal diinjak...
Semakin cepat pula jarum turun.
Kalau empat throttle Solex sudah membuka semuanya...
Rasanya bensin bukan lagi disemprot. tapi dituang.
Efek Samping Melihat Jarum Bensin
Kalau mental Anda belum cukup kuat, efeknya bisa langsung terasa:
1. Kaki kanan mendadak kehilangan tenaga.
Tadi masih semangat menyalip. Begitu melihat jarum... mendadak jadi sopir paling hemat di Indonesia. Pedal gas diangkat perlahan. Dalam hati mulai berkata, "Pelan-pelan saja lah..."
2. Mendadak jadi ahli matematika.
Otak langsung berhitung. "Tangki masih seperempat." "SPBU berikutnya berapa kilometer ya?" "Kalau dipakai santai harusnya cukup." Padahal lima menit sebelumnya masih merasa seperti pembalap.
3. Semua plang Pertamina mendadak terlihat indah.
Biasanya tidak pernah memperhatikan SPBU. Begitu jarum turun... logo Pertamina terasa lebih indah daripada papan petunjuk tempat wisata.
4. Mulai mencari pembenaran.
"Ah... memang mesin enam silinder." "Namanya juga M110." "Kan lagi ngebut." "Iya sih... wajar..." Padahal yang sedang dicari sebenarnya bukan pembenaran. Melainkan ketenangan hati.
Untung Tangkinya Besar...
Kalau dipikir-pikir sekarang, untung Mercedes-Benz memberi tangki bensin yang besar.
Kalau ukurannya kecil, mungkin saya belum sempat menikmati suara Solex, sudah sibuk mencari SPBU berikutnya.
Walaupun...
Setiap kali mengisi penuh, dompet tetap ikut terasa lebih ringan.
Tetapi...
Lucunya...
Kalau disuruh mengulang lagi...
Saya tetap akan menginjak pedal gas sedikit lebih dalam.
Karena ada satu suara yang sampai hari ini masih saya rindukan.
Suara ketika throttle kedua Solex mulai membuka.
Suara yang membuat Mercy Tiger berubah dari sedan tua menjadi sesuatu yang terasa sangat hidup.
Mungkin memang benar.
Ada kenikmatan yang tidak bisa dihitung dengan liter bensin.
Penutup
Kalau suatu hari Anda melihat pemilik Mercy Tiger 280 sedang melaju santai di jalan tol...
Jangan langsung berpikir mobilnya sudah kehabisan tenaga. Belum tentu.
Bisa jadi...
Dia baru saja tidak sengaja melihat jarum bensinnya.
📌 P.S. (Catatan Kecil)
Ada yang nyeletuk, "Tapi Om, kok mobil LCGC jarang banget ya kelihatan parkir di pom bensin?"
Ya iya. Beratnya aja masih kalah sama pintu Mercy Tiger.
Mari Berbagi Cerita dan Pengalaman
Apabila Anda memiliki pengalaman menarik, tips perawatan, dokumentasi restorasi, maupun foto Mercedes-Benz W123, kami dengan senang hati menerimanya. Informasi yang Anda bagikan dapat membantu memperkaya artikel di TigerW123 sekaligus menjadi referensi bagi sesama penggemar Mercy Tiger di Indonesia.
*Apabila tidak ingin nama dicantumkan sebagai kontributor, silakan informasikan pada email yang Anda kirimkan.